Pancasila dalam konteks sejarah bangsa indonesia
Please paste a VALID AdSense code in AdSense Elite Module options before activating it.

Pancasila dalam konteks sejarah bangsa indonesia

01 August 2018 by Artikel 81 Views
pancasila-perisai pancasila-perisai
Rate this item
(0 votes)

 A.Pengantar

        Suatu bangsa dlam mewujudkan cita-cita kehidupannya dalam suatu negara modern, secara objektif memiliki karakterisrik sendiri-sendiri, dan melalui suatu proses serta perkembangan sesuai dengan latar belakang sejarah realitas sosial, budaya, etnis, kehidupan keagamaan, dan konstelasi geogarfis yang memiliki oleh bangsa tersebut.

Latar belakang kehidupan sosial politik di Eropa terutama di Inggris dikuasai oleh kerajaan, maka awal perkembangan negara modern yang demokratis dimulai tatkala pergolakan politik yang dahsyat yang disebut sebagai the Glorious Revolution yang dimenagkan oleh rakyat (Asshiddiqie, 2006 : 86). Perkembangan selanjutnya di Inggris perjuangan untuk terwujudnya negara modern sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Inggris John Locke tentang paham kebebasan individu yang berpendapat bahwa manusia tidaklah secara absolut menyerahkan hak-hak individunya kepada penguasa. Hak-hak yang diserahkan kepada penguasa adalah hak yang ada pada masing-masing individu.

          Di Amerika Serikat tercapainya kesepakatan negara demokrasi diwarnai oleh perang sipil dan mencapai kulminasinya melalui konsensus dalam deklarasi Amerika Serikat tertanggal 4 Juli 1776. Perjuangan untuk mewujudkan negara modern yang demokrasi di Perancis pada tahun 1789. Demikian pula di Rusia pada tahun terjadi revolusi yang kemudian terbentuklah negara komunis (Andrews, 1968).

 B. Nilai-Nilai Pancasila Dalam Sejarah Bangsa Indonesia

          Zaman Kutai, Indonesia memasuki zaman sejarah pada tahun 400 M, dengan ditemukannya prasasti yang berupa 7 yupa (tiang batu). Berdasarkan prasasti tersebut dapat diketahui bahwa raja Mulawarman keturunan dari raja Aswawarman keturunan dai Kudungga. Raja Mulawarman menurut prasarti tersebut mengadakan kenduri dan memberi sedekah kepada para Brahmana, dan para Brahmana membangun yupa sebagai tanda terima kasih raja yang dermawan (Ismaun, 1975:25). Masyarakat Kutai membangun zaman sejarah Indonesia pertama kalinya ini menampilkan nilai-nilai sosial politik, dan ketuhanan dalam bentuk kerjaan, kenduri, serta sedekah kepada para Brahmana.

          Zaman Sriwijaya. Menurut mr. M. Yamin bahwa berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia terbentuk melalui tiga tahap yaitu : (1) zaman sriwijaya dibawah wangsa Syailendra (600-1400) yang bercirikan kedatuan, (2) negara kebangsaan zaman majapahit (1293-1525) yang bercirikan keprabuan. Kedua tahap tersebut merupakan negara kebangsaan Indonesia Lama. Kemudian (3) negara kebangsaan modern yaitu negara Indonesia merdeka (sekarang negara proklamasi 17 Agustus 1945) (Sekretariat Negara RI, 1995:11).

          Zaman Kerajaan-kerajaan Sebelum Majapahit. Sebelum kerajaan Majapahit muncul sebagai suatu kerajaan yang memancangkan nilai-nilai nasionalisme, telah muncul kerjaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti. Pada zaman itu lambang negara Indonesia yang makna di dalamnya juga melambangkan sila-sila Pancasila, digambarkan dengan burung garuda, dengan seloka Bhinneka Tunggal Ika.

          Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1293 berdirilah kerajaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya pada permintahan raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada yang dibantu oleh laksamana Nala dalam memimpin armadanya untuk menguasai nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit semasa jayanya itu membentang dari semanajung melayu (Malaysia sekarang) sampai Irian Barat melalui Kalimantan Utara. Seloka “Bhinneka Tunggal Ika” dipetik dari kitab Sutasoma atau Purudasanta dalam bahasa Jawa Kuno gubahan Empu Tantular. Bunyi dari petikan bagian kitab Sutasoma itu selengkapnya ditulis dalam bahasa Jawa Kuno sebagai berikut:

Hyang Budha tan pahi Ciwa raja dewa

Rwanekadhatu winuwus wara Budha wicwa

Bhinneka rakwa ring apan kena parwwanosen

Mangka Yittnawa lawan Ciwatatwatunggal

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

 

C. Zaman Penjajahan

          Setelah Majapahit runtu pada permulaan abad XVI maka berkembanglah agama Islam dengan pesatnya di Indonesia. Bersamaan dengan itu berkembangan pulalah kerjaan Islam seperti kerajaan Demak, dan mulailah berdatangan orang Eropa di nusantara. Mereka itu antara lain orang Portugis yang kemudian diikuti oleh orang-orang Spanyol yang ingin mencari pusat tanaman rempah-rempah.

          Pada abad itu sejarah mencatat bahwa Belanda berusaha dengan keras untuk memperkuat dan mengintensifkan kekuasaaannya di seluruh Indonesia. Mereka ingin membulatkan hegemoniny sampai kepolosok nusantara kita. Melihat praktek penjajahan Belanda meledaklah perlawanan rakyat diberbagai wilayah nusantara. Patimura di Maluku (1817), Baharudin di Palembang (1819), Imam Bonjol di Minangkabau (1817), Pangeran Diponegoro di JaTeng (1825-1830), Jlentik, Polim, Teuku Tjik di Tiro, Teuku Umar dalam perang Aceh (1860), anak Agung Made dalam perang Lombok (1894-1895), Sisingamangaraja di tanah Batak (1900).

          Penghisapan mulai memuncak ketika Belanda mulai menerapkan sistem monopoli melalui tanam paksa (1830-1870) dengan memaksakan beban kewajiban terhadap rakyat tidak berdosa. Penderitaan rakyat semakin maenjadi-jadi dan Belanda sudah tidak peduli lagi dengan ratap penderitaan tersebut, bahkan mereka semakin gigih dalam menghisap rakyat untuk memperbanyak kekayaan bangsa Belanda.

D. Kebangkitan Nasional

          Pada abad XX di panggung politik internasional terjadilah pergolakan kebangkitan Dunia Timur dengan suatu kesadaran akan kekuatannya sendiri. Republik Philipina (1898), yang dipelopori Joze Rizal, kemenangan Jepang atas Rusia di Tsunia (1905), gerakan Sun Yet Sen dengan republik Cinanya (1911). Partai Konggres di India dengan tokoh Tilak dan Gandhi, adapun di Indonesia bergolaklah kebangkitan akan kesadaran bebangsa yaitu kebangkitan nasioal (1908) dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dengan Budi Utomo. Gerakan inilah yang merupankan awal gerakan nasional untuk mewujudkan suatu bangsa suatu bangsa yang merdeka, yang memiliki kehormatan dan martabat dengan kekuatannya sendiri.

          Munculnya Indische Partij (1913), yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu : Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro). Sejak semula partai ini menunjukkan keradikalannya, sehingga tidak dapat berumur panjang karena pemimpinnya dibuang ke luar negeri (1913). Dalam situasi yang menggoncangkan muncullah Partai Nasional Indonesia (PNI) (1927) yang dipelopori oleh Soekarno, Ciptomangunkusumo, Sartono, dan tokoh lainnya. Kemudian PNI oleh para pengikutnya dibubarkan, dan diganti bentuknya dnegan Partai Indonesia dengan singkatan Partindo (1931). Kemudian golongan Demokrat antara lain Moh. Hatta dan St. Syahrir mendirikan PNI baru yaitu Pendidikan Nasional Indonesia (1933), dengan semboyan kmerdekaan Indonesia harus dicapai dengan kekuatan sendiri (Toyibin, 1997:35).

 E. Zaman Penjajahan Jepang

          Setelah Nederland diserbu oleh tentara Nazi Jerman pada tanggal 5 Mei 1940 dan jatuh pada tanggal 10 Mei 1940, maka Ratu Wihelmina dengan segenap aparat pemerintahannya mengungsi ke Inggris, sehingga pemerintahan Belanda masih dapat berkomunikasi dengan pemerintah jajahan di Indonesia. Janji Belanda tentang Indonesia merdeka di kelak kemudian hari dalam kenyataannya hanya suatu kebohongan belaka sehingga tidaj pernah menjadi kenyataan. Bahkan sampai akhir pendudukan pada tanggal 10 Maret 1940, kemerdekaan bangsa Indonesia itu tidak pernah terwujud.

          Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dar angsa Indonesia maka sebagai realisasi janji tersebut maka dibentuklah suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) atau Dokuritu Zyunbi Tioosakai. Susunan Badan Penyelidik itu adlah sebagai berikut : ketua Dr. K.R.T. Radjiman Wedjodiningrat ketua muda Itibangase (seorang anggota luar biasa), 60 orang anggota biasa.

F.  Proklamasi Kemerdekaan Dan Sidang PPKI

          Kemenangan sekutu dalam perang dunia membawa hikmah bagi bangsa Indonesia. Menurut pengumuma Nanpoo Gun (Pemerintah Tentara Jepang untuk seluruhdaerah selatan), tanggal 7 Agustus 1945 (Kan Poo No.72/2605k.11), pada petengahan bulab Agustus 1945 akan dibentuk Panitia Persiapan Kmerdekaan Indonesia atau “Dokuritu Zyunbi Linkai”.  

          Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, maka kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, namun terdapat perbedaan pendapat dalam pelaksanaan serta waktu Proklamsi. Untuk mempersiapkan Proklamasi tersebut makna pada tengah malam. Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda di Oranye Nassau Boulevard (sekarang Jl. Imam Bonjol No.1) untuk menegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak campur tangan tentang proklamsi. Setelah diperoleh kepastian maka Soekarno-Hatta mengadakan pertemuan pada larut malam untuk merumuskan redaksi naskah proklamasi, yang di konsep Soekarno dan diketik Sayuti Melik.

          Kemudian pagi harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tepat pada haru Jum’at Legi, jam 10 pagi wkatu Indonesia Barat (jam 11.30 waktu Jepang), Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta membacakan naskah Proklamasi dengan khidmad dan diawali dengan pidato sebagai berikut :

 

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselelnggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas Nama Bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta

 

 G. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan

          Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ternyata bangsa Indonesia masih menghadapi kekuatan Sekutu yang berupaya untuk menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia, yaitu pemaksaan untuk mengakui pemerintah Niica (Netherlands Indies Civil Adminitration). Selain itu Belanda secara licik mempropagandakan kepada dunia luar bahwa negara Proklamasi R.I hadiah Fasis Jepang.

          Keadaan tersebut membawa ketidak stabilan di bidang politik. Akibat penerapan sistem kabinet parlementer tersebut maka pemeritahan Negara Indonesia mengalami jatuh bangunnya kabinet sehingga membawa konsekuensi yang sangat serius terhadap kedaulatan negara Indonesia saat ini. Kemudian negara Indonesia membentuk :

  • Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
  • Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1950
  • Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Calendar

October 2018
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Subscriber

Visitor