SOAL FILSAFAT TEKNOLOGI

Posted by mohipan.co.id-Sep 11, 2017

 

AR

 

Soal

 

  1. Jelaskan apa makna dari filsafat teknologi!

Jawab :

Kata Filsafat  Menurut kamus besar bahasa indonesia (www.kbbi.web.id) definisi dari kata filsafat adalah 1) Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yg ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2) Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3) Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; 4) Falsafah.

Menurut sumber id.wikipedia.org, Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

 

Tekonologi Menurut kamus besar bahasa indonesia (www.kbbi.web.id) definisi dari kata teknologi adalah 1) Metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; 2) Keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia;

Menurut sumber id.wikipedia.org, Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

 

Referensi :

https://jupriyadi.wordpress.com/2013/02/07/makna-filsafat-ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-penelitian/

 

  1. Apa yang mendorong seseorang itu berfilsafat !

Jawab :

 

  • Kodrat
    Cara terpenting untuk memahami apa itu filsafat tidak lain adalah dengan berfilsafat.Berfilsafat, artinya menyelidiki suatu permasalahan dengan menerapkan argumen-argumen yang filosofis. Yang dimaksud dengan argumen-argumen yang filosofis adalah argumen-argumen yang memiliki sifat-sifat: deskriptif, kritis atau analitis, evaluatif atau normatif, spekulatif, rasional, sistematis, mendalam, mendasar, dan menyeluruh. Dengan perkataan lain, berfilsafat berarti: mempertanyakan dasar dan asal-usul dari segala-galanya, mencari orientasi dasar bagi kehidupan manusia.
    Dalam rangka berfilsafat itu, ada empat sikap batin yang diperlukan:
  • Keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini.
  • Kesediaan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap suatu pernyataan filsafat, tidak peduli sekonyol apa pun tampaknya tanggapan kita pada saat itu.
  • Tekad untuk menempatkan upaya mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kekecewaan karena “kalah” dalam perdebatan.
  • Kemampuan untuk memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi, agar tidak menyebabkan kekaburan berpikir atau konflik pribadi sehingga dapat menghambat proses diskusi filsafat.Pokok pertanyaan kita adalah, “Mengapa (kita) berfilsafat?” atau “Untuk apa (kita) berfilsafat?” Salah satu jawaban yang terkesan spekulatif namun paling mungkin adalah, “Karena pada suatu saat kita secara tidak sadar sudah bergelut dengan suatu permasalahan filsafat, yang dengan sendirinya jadi bahan pemikiran kita.” Meskipun kita tidak memiliki minat untuk belajar filsafat, ada masalah-masalah filsafat yang mau tak mau menarik perhatian kita. Masalah persisnya tentu berbeda dari orang ke orang. Kita mungkin akan terserap dalam suatu pembahasan filsafat walaupun persoalan yang dibahas kelihatannya sama sekali tidak “filosofis”. Entah kita seorang mahasiswa filsafat atau bukan, kita dapat saja terbawa ke arah pemikiran filsafat. Ringkasnya, setiap orang pasti menyimpan asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinan filsafat. Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi haruskah kita menangani permasalahan filsafat, melainkan bagaimanakah caranya.

 

Referensi :

http://arip-study.blogspot.co.id/2012/06/alasan-seseorang-berfilsafat-mengapa.html

 

  1. Jelaskan 4 ciri penting cara berfikir filsafat !

Jawab :

  1. Berfikir secara radikal. Artinya berfikir sampai ke akar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar-akarnya adalah berfikir sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
  2. Berfikir secara universal atau umum. Berfikir secara umum adalah berfikir tentang hal-hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.
  3. Berfikir secara konseptual. Yaitu mengenai hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap perbuatan-perbuatanbebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana yang biasa dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran “apakah kebebasan itu”?
  4. Berfikir secara koheren dan konsisten. Artinya, berfikir sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir dan tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut.

 

Referensi :

http://edukonten.blogspot.co.id/2010/11/ciri-ciri-berfikir-filsafat.html

 

  1. Jelaskan perbedaan cara pandang filsafat dengan cara pandang ilmu dalam mengamati objek !

Jawab :

Filsafat menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb. Pengetahuan tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu. Dan Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental. Filsafat keseluruhan yang ada. Pengetahuan obyek penelitian yang terbatas. Sedangkan Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia material. Filsafat Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan. Sedangkan pengtahuan segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Dan Ilmu Pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia. Filsafat bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu. Pengetahuan bertugas memberikan jawaban. Dan Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris. Filsafat menggarap bidang yang luas dan umum, sedangkan ilmu pengetahuan membahas bidang-bidang yang khusus dan terbatas. Tujuannya pun lain, filsafat bertujuan mencari pemahaman dan kebijaksanaan atau kearifan hidup. Sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan untuk mengadakan deskripsi, prediksi, eksperimentasi, dan mengadakan kontrol.  Obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum),Ø yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu pengetahuan itu bersifat khusus dan empiris. Artinya ilmu pengetahuan hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu. Obyek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam, dan mendasar. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal ilmu pengetahuan bersifat teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.  Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan dayaØ spekulasi, kritis, dan pengawasan. Sedangkan ilmu pengetahuan haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu pengetahuan terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.  Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkanØ pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu pengetahuan bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis yang di mulai dari tidak tahu menjadi tahu.  Filsafat memberikan penjelasan yang mutlak dan mendalam sampaiØ mendasar (primary cause) sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, dan yang lebih sekunder (secondary cause).  Batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia sedangkanØ batas kajian ilmu pengetahuan adalah fakta.  Ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan why dan how sedangkan filsafatØ menjawab pertanyaan why, why, dan why dan seterusnya smpai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia.

 

Referensi :

https://ulfamr.wordpress.com/2012/10/14/definisi-filsafat-pengetahuan-dan-ilmu-pengetahuan-beserta-persamaan-dan-perbedaannya/

 

  1. Jelaskan ciri substantif & ciri aksidensi suatu objek, berikan contohnya!

Jawab :

 

  1. Ciri Substansi

Substansi

Dalam bahasa sehari-hari substansi biasanya dikaitkan dengan inti pati suatu hal. Misalnya dalam kalimat substansi beton ini kurang baik, atau substansi pidato bapak presiden adalah bekerja keras menunjang reformasi. Namun dalam filsafat substansi dikaitkan dengan hakikat kenyataan yang menopang segala gejala dan yang tidak berasal lagi dari apa-apa. Konsep substansi ini kemudian dibicarakan oleh Descartes.

Aristoteles adalah yang pertama kali membicarakan substansi, ia menggunakan kata ousia (artinya ke-ada-an). Ousia dimaksudkan Aristoteles sebagai barang konkret yang ada, yang terdiri dari bahan dan bentuk (hylemorphisme). “Kita dapat bertanya, apakah berjalan, berada dalam keadaan sehat, dan duduk, masing-masing berada pada dirinya sendiri, dan demikian juga mengenai segala predikat lainnya. Segalanya itu tidak berdiri pada dirinya sendiri, maka dari itu tak dapat dipisahkan dari substansi. Sebetulnya yang merupakan substansi ialah itu yang jalan, yang sehat, tang duduk. Nah. Inilah yang mendasari segala predikat tadi. Inilah substansi dan sesuatu yang individual itu dan yang tampak dalam kategori semacam itu (yang dapat diungkapkan dalam kata-kata),” demikian ujar Aristoteles[4].

Dalam kutipan di atas, Aristoteles mengaitkan substansi dengan predikat, sekaligus juga menunjukkan substansi sebagai hal yang disandari oleh banyak aktivitas atau keadaan. Tanpa substansi seluruh aktivitas hampir tidak bisa dinyatakan ada. Sebaliknya substansi tak ada tanpa kaitannya dengan aktivitas-aktivitas tadi, substansi selalu dapat diperjelas. Substansi bukanlah sebuah X yang tak dikenal.

Sekali lagi ditegaskan, bagi Aristoteles substansi konkret inilah yang paling penting, bukan substansi yang terpisah dari kenyataan. Pendirian ini berbeda dengan pemikiran gurunya (Plato), yang menegaskan bahwa substansi berdiri lepas dari hal-hal konkret, yaitu dalam bentuk idea.

Substansi sebagai subyek suatu kalimat merupakan satu pemikiran yang mulai memperkembangkan pengetahuan pada suatu penilaian akan realitas. Pengetahuan bukan lagi mengenai asal-muasal namun tentang bagaimana kita mengetahui kenyataan keseharian. Untuk kepentingan ini, Aristoteles membuat kategori (kotak-kotak pengertian). Lewat kategori ini, Aristoteles hendak menyajikan cara kerja pikiran kita pada saat memahami substansi konkret. Misalnya, “Rumah itu Indah”. Rumah termasuk dalam kotak pengertian substansi (karena ia konkret, memiliki bentuk dan bahan) sedang indah adalah suatu kenyataan yang menempel pada yang konkret.

Kategori itu selain substansi ada sembilan jenis (baca: logika): Kuanititas (dua, tiga, dll), Kualitas (busuk, segar, dll), Relasi (rangkap, separoh, dll), Tempat (di sana, di pasar), Waktu (kini, esok, kemarin, dua jam lalu, dll), Keadaan (duduk, berdiri, dll), Mempunyai (bersepatu, bercelana, dll), Berbuat (membaca, menulis, dll), dan Menderita (terbakar, terlempar, dll). Sembilan kategori ini semuanya akan menjadi predikat pada saat kita memahami hal-ihwal mengenai substansi. Misalnya, kucing itu tadi pagi mengeong keras karena tertimpa tangga.

 

  1. Ciri-ciri Aksidensi

Realitas menurut Aristoteles tersusun atas satu substansi dan sembilan aksidensi yang terkenal dengan nama sepuluh kategori (The Categories). Maka sepuluh kategori yang dimaksud adalah 1) Substansi (Substance) 2) Kualitas (Quality) 3) Kuantitas (Quantity) 4) Relasi (Relation) 5) Tempat/Ruang (Place) 6) Waktu (Time) 7) Kedudukan (Position/Posture) 8) Keadaan (State/Clothing) 9) Aktivitas (Activity/Action) 10) Pasifitas (Passivity/Affection). Ciri-ciri aksidensi menurut aristoteles adalah:

  • Merupakan sesuatu yang menjadi sifat khusus dari barang sesuatu.
  • Hal-hal tersebut bersifat material.
  • Hal-hal tersebut mampu bereksistensi.
  • Terkungkung oleh ruang dan waktu.

Berdasarkan ciri diatas maka aksidensi secara garis besar bisa di kategorikan sebagai berikut:

  1. Kualitas (Quality)

Kualitas merupakan salah satu bentuk ‘aksiden-aksiden’, yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri, yang menunjukkan nilai dan potensi dari sesuau substansi yang di tempatinya, sehingga apabila dihubungkan dengan sesuatu yang lain yang berdiri sendiri (substansi) maka nilai atau potensi dari sesuatu itu akan menjadi ciri khusus dari substansi tersebut.Misal: Manusia adalah mahluk yang cerdas. Sifat cerdas akan menjadi ciri khusus dari manusia tersebut.

  1. Kuantitas (Quantity)

Kuantitas memberikan sifat khusus pada substansi berupa kapasitas dan jumlah dari sesuatu tersebut. Misal: manusia itu tingginya 180 cm.

  1. Relasi (Relation)

Relasi merupakan aksiden yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada substansi yang di lekatinya. Relasi memberikan ciri kusus berupa hubungan atau relasivitas. Misal: Aristoteles lebih muda dari Plato.

  1. Tempat / Ruang (Place).

Tempat adalah salah satu bentuk aksiden yang akan memberikan ciri khusus kepada substansinya berupa lokasi atau wilayah. Misal: Plato tinggal di Athena.

  1. Waktu (time).

Misal: Seseorang yang hidup pada abad ke 5 SM

  1. Kedudukan (Potition/Posture).

Merupakan bentuk aksiden yang memberikan sifat khusus pada substansinya berupa keadaan atau posisi dari sesuatu tersebut. Misal: manusia itu sedang duduk.

  1. Keadaan (State).

Misal: anak itu berpakaian.

  1. Aktivitas (Activity)

Misal: manusia itu telah memotong sepotong kain.

  1. Pasifitas (Pasivity/ Affection)

Misal: Manusia itu dibunuh dengan racun.

 

Referensi :

http://sutanmajolelo.blogspot.co.id/2010/06/ciri-ciri-aksidensi.html

https://bismirindu.wordpress.com/2009/10/11/filsafat-aristoteles/

Share This!

Related posts

Leave a Comment